Halo Bizzdater, gimana kemarin Bizzdate ke-12 nya? seru banget kaaan? ampe penuh banget ya ruangannya, hihihi..
okey, seperti biasa, tiap minggunya, aku bakal terus kirimin ulasan topik yang sudah di-share setiap hari Seninnya ke Bizzdater. Topik yang akan diulas kali ini adalah "Word of Mouth Marketing" yang sudah dengan semangat disampaikan oleh Tri Asih Puspitaningtyas sang Senior Brand Associate di CreasionBrand, follow nih @moi_tyas , hehehe..
Sedangkan influencer adalah konsumen yang memiliki pengaruh pada konsumen lainnya karena misalnya mereka dikenal sebagai ahli dalam suatu masalah atau dikenal memiliki banyak ide. Influencer ini biasanya memiliki argument yang rasional, sedangkan argument evangelist cenderung lebih karena emosi.
okey, seperti biasa, tiap minggunya, aku bakal terus kirimin ulasan topik yang sudah di-share setiap hari Seninnya ke Bizzdater. Topik yang akan diulas kali ini adalah "Word of Mouth Marketing" yang sudah dengan semangat disampaikan oleh Tri Asih Puspitaningtyas sang Senior Brand Associate di CreasionBrand, follow nih @moi_tyas , hehehe..
Word of Mouth Marketing
Apa sih Word of Mouth alias WOM? WOM
atau Word Of Mouth adalah salah satu strategi pemasaran yang memicu konsumen
untuk membicarakan (Talking), mempromosikan (Promotion), dan menjual (Selling)
produk kita kepada konsumen yang lain.
Tujuan dari WOM itu apa ya? Agar orang tertarik untuk ikut mencoba apa yang
direkomendasikan. jadi konsumen tidak hanya membicarakan, tapi juga dapat menjual
secara tidak langsung kepada konsumen lainnya.
Penting banget ya WOM itu? Menurut
Emanuel Rosen dalam buku The Anatomy of Buzz:How
To Ceate Word-Of-Mouth Marketing,
menyatakan ada tiga
alasan yang membuat WOM menjadi penting. So, penting banget kan, bizzdater?!
- Noise. Pada kenyataannya, konsumen saat ini sulit menentukan pilihan karena banyaknya iklan di berbagai media yang dilihatnya setiap hari. Mereka cenderung lebih mendengarkan apa yang dikatakan orang atau kelompok yang menjadi rujukan termasuk teman-temannya.
- Skepticism.
Dalam konteks ini konsumen pada umumnya skeptic atau meragukan kebenaran informasi yang diterimanya. - Connectivity.
Setiap hari orang selalu berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain dan mereka saling berkomentar hingga bergosip baik mengenai produk yang dibelinya maupun persoalan lainnya. Dalam berinteraksi itu terjadi dialog seperti produk apa yang dimiliki dan akan dimilikinya serta pengalaman mereka menggunakan produk tersebut.
- Ask them. Tanyakan pada pada pelanggan mengenai hubungan antara produk/layanan Anda dengan mereka: apa yang mereka beli, motivasinya, lalu apa yang mereka rekomendasikan kepada teman mengenai produk Anda. Selain itu, tanyakan juga ini melalui social media seperti chat room, Twitter hingga blog. Dengan demikian, maka Anda akan memahami value yang utama di mata pelanggan mengenai produk/layanan Anda.
- Teach them. Pelanggan juga perlu distimulasi untuk menulis, dan mungkin butuh bantuan lebih untuk merangkai kata-kata. Sehingga, Anda mungkin dapat mengajarkan kepada pelanggan bagaimana menuliskan sebuah review, dan menjelaskan keunikan dari produk Anda.
- Include Them. Orang biasanya senang jika dilibatkan dengan produk/layanan yang mereka sukai. Anda dapat meminta nasihat kepada sekelompok pelanggan terkait dengan sejumlah inisiatif maupun langkah pemasaran. Ini akan memberikan sense of belonging dari pelanggan terhadap perusahaan.
- Star Them. Pelanggan biasanya punya pengalaman unik ataupun testimonial mengenai produk Anda. Anda dapat memanfaatkannya dengan cara merekamnya lewat video, misalnya dengan melakukan wawancara dengan pelanggan terkait pengalamannya. Ini merupakan pengalaman original yang berharga.
- Surprise them. Berikan kejutan kepada pelanggan. Kejutan ini bisa apa saja, berupa pelayanan yang tidak mereka perkirakan, hingga yang jauh melampaui ekspektasi. Intinya adalah Anda memberikan suatu pengalaman pelanggan yang tidak terlupakan, dan mendorong mereka untuk berbicara mengenainya.
- Reward Them. Ketika pelanggan melakukan word of mouth yang hasilnya memuaskan bagi Anda, maka berikan apresiasi kepada mereka. Misalnya salah seorang konsumen memuat sebuah artikel mengenai produk kita di blog. Selain itu, reward juga bisa diadakan sebagai pemicu, misalnya menyelenggarakan kontes. Misalnya kontes meminta konsumen untuk menuliskan pengalamannya dengan suatu produk, dan perusahaan menyediakan sejumlah hadiah untuk pengalaman terbaik.
Sedangkan influencer adalah konsumen yang memiliki pengaruh pada konsumen lainnya karena misalnya mereka dikenal sebagai ahli dalam suatu masalah atau dikenal memiliki banyak ide. Influencer ini biasanya memiliki argument yang rasional, sedangkan argument evangelist cenderung lebih karena emosi.
Untuk mendapat manfaat dari strategi WOM adalah dengan
tetap menjaga kualitas produk dan layanan agar konsumen pun dapat
menginformasikan hal-hal yang positif.


.jpg)
No comments:
Post a Comment